Saturday, 3 September 2016

Kembali Jadi Manusia

Setiap dari kita tentu pernah merasakan yang namanya lelah dengan hidup. Merasa hidup kita terlalu berat dan selalu sulit tanpa mengerti bahwa jauh lebih banyak mereka yang hidupnya lebih sulit dari yang kita alami. Kadang kita perlu sedikit down to earth supaya bisa tetap memanusiakan diri kita yang seakan jadi budak waktu dan rutinitas.
Berapa banyak dari kita yang bisa menyempatkan sedikit waktunya untuk sekedar bersyukur atas apa yang telah diperoleh hari ini? Atau bahkan hanya sekedar bersyukur karena masih diizinkan menghirup udara dari pagi saat bangun hingga bangun kembali. Kita terlalu terfokus akan hal-hal yang sebetulnya tidak penting-penting amat.
Tadi pagi, saya dan teman-teman BEM KM FKG UGM 2015 melaksanakan insidental di SLB 1 Bantul. Di sana kami bercanda, bernyanyi, melukis cita-cita, dan tertawa bersama dengan adik-adik yang mungkin bagi kita memiliki kekurangan. Namun sungguh, dibalik kekurangan mereka itu tersimpan suatu hal yang tidak bisa saya lihat pada orang-orang kebanyakan. Rasa syukur itu terlihat dari pasang-pasang mata mereka saat menyambut kedatangan kami di sana. Sungguh, tawa mereka begitu lebar dan nyanyian mereka begitu ikhlas dan lepas, seolah mereka tidak memiliki beban apapun. Saya belajar begitu banyak dari pertemuan ini.
Seorang anak, namanya Dayana. Ia cacat fisik di bagian kakinya dan harus menggunakan alat bantu berjalan. Tapi ia begitu periang dan amat suka bernyanyi. Lagu Balonku, Pelangi-pelangi, ia nyanyikan dengan penuh sukacita dan bahagia. Saat ditanya mengenai cita-citanya, Dayana menjawab ingin menjadi seorang dokter. Begitu pula dengan anak-anak yang lain. Dalam hati saya sungguh mengamini apa yang menjadi cita-cita dari Dayana dan anak-anak lain. Kekurangan mereka mungkin terlihat dalam fisik, namun hati mereka bersih dan tulus. Dayana selalu memegang tangan saya dan merapatkan tubuhnya. Disitu entah mengapa saya merasa bahwa terlalu banyak hal yang saya kejar sedemikian hingga untuk bersyukur di tengah-tengah kesibukan saja saya tak sempat.
Dayana dan anak-anak lain sungguh mengajarkan banyak hal untuk saya hari ini. Bahwa tetap menjadi manusia itu amatlah penting, Manusia yang peka dan peduli dengan sekitar dan bukan hanya peduli dengan kepentingannya sendiri yang menjadikan kita budak untuk hidup kita sendiri.
Mereka juga mengajarkan bagaimana memaknai rasa syukur bukan hanya dalam kata-kata "Alhamdulillah" namun juga meresapinya dalam hati.

Dan hari ini pun saya bersyukur, karena bertemunya saya dengan Dayana dan teman-temannya membuat saya kembali jadi manusia hari ini.

Yogyakarta, 3 September 2016