Sunday, 21 August 2016

Kontemplasi Diri

Sudah dua minggu ini kegiatan perkuliahan semester tiga berjalan, tapi rasa-rasanya semangat untuk menjalaninya dengan sepenuh hati masih belum kunjung menempel pada raga ini. Mungkin benar apa yang orang-orang bilang bahwa perjuangan untuk masuk ke universitas yang diinginkan belum ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan saat menjalani kehidupan di dalamnya.
Saya ini adalah tipe orang yang memiliki banyak impian dan selalu bersemangat di awal. Tapi untuk menjalani impian dan mempertahankan semangat saat sedang berjalan, saya akui adalah hal yang amat sulit dilakukan. Walau sebenarnya saya sadar dengan sepenuhnya bahwa jika saya terus-terusan begini, nggak akan mungkin jadi dokter gigi yang hebat seperti yang selalu saya impikan.
Salah satu dosen saya pernah berkata bahwa menjadi dokter gigi yang biasa-biasa saja tidak cukup. Apa yang membedakan saya dengan dokter gigi yang lain itulah yang menjadi nilai plus bagi pribadi saya. Dosen saya itu berkata bahwa kami harus mencari apa yang dapat menjadikan kami sebagai dokter gigi yang berbeda.
Lalu saya berpikir, saya ini memiliki interest pada hal-hal yang banyak. Tapi tidak satupun dari banyak hal tersebut saya geluti dengan sungguh-sungguh. Dulu saat saya SMP, dunia literasi menarik minat saya dan saya terjun cukup dalam pada dunia tersebut. Namun saat SMA, saya berpaling. Saya jadi seperti kehilangan kemampuan dalam menulis dan merasa bahwa itu bukanlah passion saya. Walau hati kecil saya sendiri berkata bahwa passion saya memang pada dunia ini. Lalu akhir-akhir ini saya mencoba untuk berkontemplasi mengenai hal-hal yang terjadi semasa SMA. Apa yang sebenarnya membuat saya kehilangan interest pada dunia yang dulu begitu saya cintai? Saya coba tanya pada ibu, beliau berkata bahwa saat ini saya tidak suka baca seperti dulu dan terlalu berkutat pada dunia perkuliahan yang entah tidak ada habis-habisnya. Lalu sayapun terdiam dan diam-diam mengiyakan apa yang ibu saya katakan. Saya terlalu fokus pada hal yang utama, tapi benar-benar meninggalkan apa yang sebenarnya bisa membangun karakter saya menjadi lebih kuat. Saya terlalu terfokus pada bagaimana caranya agar saya bisa mendapat IPK yang tinggi dan bisa mencapai cita-cita saya untuk menjadi dosen. Dan saya tersadar bahwa IPK tidak selamanya menolongmu dalam mencapai cita-citamu. Seperti yang dosen saya katakan, bahwa IPK bukanlah satu-satunya tolok ukur dalam pencapaian kesuksesan.

Dunia literasi ini bukanlah dunia yang baru saya kenal. Sudah 3 tahun saya fokus di dalamnya, membangun mimpi untuk bisa menjadi seorang penulis handal, namun tiba-tiba sirna karena hal yang sebetulnya tidak bisa dijadikan alasan untuk berhenti mencapai cita-cita saya ini. Saya akan mulai menulis lagi. Bagaimanapun caranya, bagaimanapun sulitnya, bagaimanapun keadaannya. Saya akan mulai membaca novel lagi, saya akan mulai berimajinasi dan membuat cerita saya sendiri. Saya akan mengejar mimpi lama saya lagi.

Yogyakarta, 21 Agustus 2016