Sunday, 24 April 2016

Rumah yang Merindu

Berkali kali aku sanggah sendiri apa yang aku rasakan. Tapi berkali-kali pula perasaan yang sama semakin mengakar, menancap semakin dalam, menyebar virus-virus overthinking yang membuatku semakin ragu pada kita.

Inikah yang harus kubayar? Semahal inikah harga kesalahan yang aku perbuat, sayang? Haruskah aku sampai kehilangan kamu? Haruskah sampai seperti ini? Haruskah namaku sampai hilang dari kehidupan dan hatimu?

Cinta kita tidak pernah sesakit ini, sayang. Tidak pernah sesakit saat aku sadari antara kita mulai terbentang jarak yang amat lebar. Tidak sesakit ketika aku kehilangan aku dalam pancaran matamu. Tidak sesakit saat aku semakin merasa perpisahan kita itu nyata adanya.

Tolong bangunkan aku. Sadarkan aku bahwa ini hanya sekedar mimpi setelah lama aku tertidur. Ijinkan aku memutar waktu hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Sama seperti dulu. Aku tidak ingin tidur lagi, bila disetiap tidurku, harus bermimpi seperti ini.

Apakah kita harus sama seperti mereka? Yang berpisah setelah sekian lama bersama? Yang harus menyerah pada jarak dan aktivitas, atau mungkin menyerah pada cinta yang semakin lama semakin hilang. Tolong, kembalikan sinar matamu yang dulu lagi, yang penuh cinta saat menatap aku.

Aku rindu. Aku rindu kamu yang dulu.

Dulu aku pernah mengejek mereka yang galau karena cintanya yang berubah. Terlalu sombong aku mengatakan bahwa hal itu tidak akan kita rasakan. Sekarang aku merasakan yang sama. Merasakan cintaku berubah semakin jauh dariku. Karma itu memang nyata adanya, ya?

Tolong cintai aku seperti dulu. Cintai aku lagi dengan cara yang dahulu. Tolong yakinkan aku bahwa ini hanyalah harga yang harus kubayar atas segala kesalahanku. Bukan hutang yang terbiarkan tak terbayar, dan sang empunya pergi tanpa menagih. Biarkan aku hanya membayar semuanya, setelah itu, aku mohon, kembalilah padaku seperti dulu.

Kembalilah kerumahmu, sayang.

Karena terkadang, bukan hanya perantau yang merindukan rumah. Tapi rumah juga bisa merindukan sang perantau.


Yogyakarta, 24 April 2016