Monday, 4 May 2015

Life

Pernah gak sih kamu, ngerasa hidupmu terlalu palsu. Kamu bisa aja ketawa dengan riang, pergi kesana kemari sama temen-temen, seolah gaada apapun yang terjadi.
Sementara setelah sampai di rumah, saat sendiri, kamu larut lagi dalam sedih.

Pernah gak sih kamu, ketika lagi melamun menyetir motor atau mobil, bicara dengan dirimu sendiri, apasih yang sebenarnya lagi kamu perjuangkan? Untuk siapa? Apa tujuannya?

Pernah gak sih kamu, capek sama hidup. Capek untuk selalu mengabaikan perasaan sendiri dan terlalu takut menyakiti perasaan yang lain. Sementara gak ada satupun yang berusaha mengerti perasaanmu.

Pernah gak sih kamu, ingin punya seorang sahabat. Seorang saja. Yang dia bisa mengerti kamu seutuhnya, yang bisa paham, yang tau apa yang kamu rasa tanpa harus cerita.
Karena terkadang terlalu lelah untuk mengulang sesuatu yang pahit.
Karena kadang kita hanya butuh pelukan dan kata-kata "aku disini".
Karena kadang kita sadar orang-orang hanya penasaran, bukan benar-benar peduli.

Mungkin memang hanya Tuhan yang seutuhnya mengerti.
Yang seutuhnya memeluk dan selalu ada, tanpa diminta.
Yang selalu menerima lagi, sebanyak apapun salah yang telah dibuat.
Yang selalu menyediakan rumah, untuk kita pulang.
Yang selalu menanti, untuk kita kembali.

Friday, 1 May 2015

Untuk Kamu, Rumahku

Jogja, kota ini masih sama. Tak pernah berubah sejak 17 tahun berlalu. Masih ramah dan hangat. Setidaknya untuk orang lain. Tapi bukan untuk aku.
Hangatnya jogja telah pergi sejak dua tahun lalu. Namun sandiwara hidup sudah kuperankan amat baik hingga tak seorangpun tahu, kecuali kamu.
Pun kamu tak memaksaku untuk berbagi, tak akan kuberi sampai saat ini. Aku merasa tak perlu berbagi kesedihan, hanya menambah lukaku, lukamu. Karena ku tahu, kesedihan mudah melandamu bila wanitamu ini merasakannya.
Tapi kau sandaranku. Tak ada lagi. Hanya pundakmu tempat aku kembali. Bajumu adalah delta dari air mataku. Kau adalah rumahku.

"Kenapa mau kuliah di luar kota? Di Jogja kan lebih bagus"
"Kok gak kuliah di Jogja aja?"
Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang terlontar ketika aku berkata akan merantau.
Kadang aku hanya tersenyum atau tertawa. Menertawakan diri sendiri lebih tepatnya. Hanya kau dan aku yang mengerti alasannya.
Aku pengecut. Namun kau selalu berkata wanita tak ada yang pengecut. Kata-kata yang selalu kuingat, kata-kata yang menjadi anak panah cupid untuk kita berdua.
Tapi aku tetap merasa pengecut. Bagaimana bisa aku pergi, berlari dari masalah. Bagaimana bisa aku kabur, membohongi hatiku sendiri bahwa aku baik-baik saja.

Aku hanya tak ingin gila.

Aku ingin pergi jauh.

Dan kembali ke rumah,
pada saatnya nanti.

Kamu.